Training Pendidikan Karakter Di SMAN 12 Konawe Selatan Tahun 2016


Dunia saat ini memang sedang mencari sebuah keseimbangan. Ditengah maraknya fenomena perilaku amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya, seperti seks pranikah, video porno, penyalahgunaan NAPZA dan minuman keras, tawuran, kekerasan perploncoan, penghinaan guru, dan sesama murid melalui facebook dan media sosial lainnya. Bahkan kasus-kasus korupsi, kolusi dan manipulasi yang prevalensinya banyak melibatkan orang-orang terdidik dan terpelajar. Hal ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan yang idealnya melahirkan generasi-generasi terdidik dan beretika sekaligus menjadi musuh utama atas fenomena-fenomena perilaku amoral tersebut.

Mungkin hal inilah salah satu yang menjadi kekhawatiran para tokoh-tokoh dunia, diantaranya seperti Mahatma Gandhi yang memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu "education without character" (pendidikan tanpa karakter). Begitu pula Dr. Martin Luther King yang pernah berkata: "Intellegence plus character.. that is the goal of true education" (Kecerdasan plus karakter....itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya). Juga Theodore Roosevelt yang mengatakan: "To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society" (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat). Bahkan pendidikan yang menghasilkan manusia berkarakter ini telah lama didengung-dengungkan oleh tokoh dari pendidikan Indonesia yakni Ki Hadjar Dewantara, dengan pendidikan yang berpilar kepada Cipta, Rasa, dan Karsa. Bermakna bahwa sebuah pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan saja (knowledge) tetapi juga mengasah afeksi moral sehingga menghasilkan karya bagi kepentingan umat manusia.

Berdasarkan latar belakang fenomena dan pendapat para tokoh inilah, dunia pendidikan saat ini mencoba mengevaluasi sistem pembelajaran untuk menghasilkn manusia  berkarakter. Proses pencarian jati diri sistem pendidikan, khususnya di negara Indonesia inilah yang merupakan arah untuk mencapai keseimbangan atau kondisi homeostatic yang relatif sebagaimana setiap manusia mempunyai keinginan untuk mencapainya. Disinilah peran sekolah dan guru sebagai institusi pendidikan formal sebagai posisi yang "tertantang" dalam menghadapi fenomena yang berkaitan dengan globalisasi dan degradasi moral.

Selain peran sekolah sebagai lingkup pendidikan formal untuk mentransfer ilmu yang berkaitan dengan karakter, maka sudah seharusnya semua pihak ikut pula berperan aktif dalam memberikan solusi untuk mempercepat tercapainya tujuan bersama yaitu menghasilkan manusia yang berkarakter baik serta unggul.

Oleh karena itu para pemuda yang didominasi oleh kebanyakan mahasiswa dari Kecamatan Lalembuu yang tergabung dalam satu gerakan dan/atau organisasi Character Education Basic Training (CEBT 135) mencoba untuk ikut pula berperan aktif dalam membentuk pemuda berkarakter yang dilakukan melalui beberapa kegiatan organisasi salah satunya adalah kegiatan Training Dasar Pendidikan Karakter yang di adakan dilingkup satuan pendidikan seperti SMA/MA/Sederajat di wilayah Kecamatan Lalembuu; Konawe Selatan.

Dalam kegiatan training dasar tersebut mengangkat tema : "Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan dengan Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual untuk mencapai impian lebih sukses" yang di adakan di SMAN 12 Konawe Selatan. Kegiatan ini pertama kali diadakan pada tanggal 18 - 19 Juli 2016, dalam kegiatan tersebut ada beberapa perusahaan dan/atau instansi yang menjadi sponsorship di antaranya Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Tenggara, BINMAS Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, dan Telkomsel Kantor Cabang Kendari.

Kegiatan tersebut di hadiri dan dibuka langsung oleh Kepala UPTD Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Lalembuu yakni Bapak Sugiyanto, S.Pd.SD; selain itu hadir pula Wakil Kepala Sekolah bagian Kesiswaan yakni Bapak Jamaludin, S.Pd dalam rangka mewakili Kepala Sekolah, serta Perwakilan Tokoh Masyarakat yakni Bapak H. Abdul Hamid HK.

Training dasar perdana tersebut di ikuti oleh peserta sebanyak 106 orang, yakni lebih di dominasi oleh siswa baru serta beberapa dari perwakilan kelas XI dan XII.

Dalam kegiatan training perdana tahun 2016, mengangkat beberapa materi pokok di antaranya : Merencanakan Masa Depan, Empat Pilar Kebangsaan Republik Indonesia, Permasalahan Moralitas Remaja dan Penguatan Karakter diri dalam menghadapi era pergaulan modern, serta membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual.

Dalam materi "Merencanakan Masa Depan" seluruh peserta di arahkan untuk bangkit dan menysun serta memperjuangkan impian yang hendak dicapai di masa yang akan datang, di samping itu peserta di motivasi untuk terus semangat dalam melanjutkan pendidikannya sebagai langkah untuk bisa lebih sukses dalam mencapai impiannya.

Dalam materi "Empat Pilar Kebangsaan RI" seluruh peserta di arahkan untuk dapat memahami makna sila dalam Pancasila sebagai pedoman dan petunjuk dalam berpikir serta berprilaku dalam kehidupan masyarakat; Memahami makna-makna dalam pembukaan UUD 1945; serta memahami proses dan cikal bakal terbentuknya NKRI.

Dalam materi "Moralitas dan Penguatan Karakter" seluruh peserta di berikan pemahaman mengenai dampak rapuhnya dari Moralitas (bahaya seks bebas, narkoba, minuman beralkohol, dan geng pelajar); Pentingnya moralitas bagi pelajar sebagai generasi penerus bangsa; serta perlunya membangun mental positif dan beretika baik untuk menjadi insan yang berkarakter.

Dalam materi "Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual" seluruh peserta diarahkan dalam membangun kemampuan untuk dapat lebih merasakan perasaan terdalam pada diri sendiri; serta membangun kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna dalam kehidupan dengan memegang teguh prinsip-prinsip ketuhanan.

Selain itu hadir pula sponsorship untuk berbagi informasi kepada peserta dalam bentuk sosialisasi diantaranya dari perwakilan Bank Indonesia yang memberikan materi sosialisasi tentang "Pengetahuan secara umum tentang bank" serta "ciri-ciri keaslian uang rupiah dan cara memperlakukan uang rupiah".

Bukan hanya BI bahkan hadir pula dari BINMAS Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara membawakan materi sosialisasi yaitu " Upaya penanggulangan Radikalisme  dan terorisme di Indonesia"

Dalam memberikan semangat persatuan dalam kegiatan maka dibuatlah sebuah yel-yel kegiatan yakni "SANG JUARA" yang tentu memiliki makna yang sangat dalam untuk membentuk pelajar dan pemuda menjadi generasi unggul yang berkualitas.

Adapun kepanjangan dari SANG JUARA yakni : Semangat Kebangsaan, Adaptif, Normatif, Gotong Royong, Jujur, Unggul, Amanah, Religius, dan Arif Bijaksana.

Rangkaian kata SANG JUARA lebih rinci memiliki makna yakni : Setiap pelajar memiliki Semangat Kebangsaan yang tinggi dalam rangka membangun bangsa, yang di wujudkan dengan cara  mampu dalam bersikap Adaptif dalam lingkungan sosial, serta menjunjung tinggi Norma-Norma yang ada dan bergotong royong untuk meringankan beban bersama. Dalam sebuah kebersamaan Jujur tentunya menjadi sifat yang harus dijalankan dan dipegang teguh karena sebagai sifat yang sangat penting, hal inilah sebagai salah satu ciri kriteria manusia Unggul, seluruh manusia yang unggul sudah dapat dipastikan mampu memegang Amanah yang diberikan kepadanya, bahkan orang yang amanah pada umumnya memiliki kebiasaan Religius yang sangat kuat, sehingga mereka lebih Arif Bijaksana dalam berkata, bertindak, dan dalam mengambil setiap keputusan penting.

Walaupun dalam kenyataan bahwa setiap perubahan besar dalam diri manusia, tidak lain dan tidak bukan sangat bergantung pada kemauan individu masing-masing, sementara keluarga, sekolah, dan masyarakat hanya berperan membantu dalam memberikan informasi dan mengarahkan agar setiap individu dan/atau peserta didik tetap berada pada jalan yang baik.

Harapan besar tentunya bagi semua pihak semoga para peserta menjadi insan pelajar yang unggul, serta mampu untuk memerangi prilaku amoral baik dalam diri sendiri maupun dalam lingkungan masyarakat khususnya di wilayah Kecamatan Lalembuu.


Sumber :
Berkowitz, Marvin W. (2002). The Science of Character Education. Dalam Wiliam Damon (Editor), Bringing in a New Era in Character Education. USA: Hoover Institution Press Publication.

Bohlin, Karen, E. (2005). Teaching Character Education throught Literature. New York: Routledge Falmer

Dr. M. Ghazali Bagus Ani Putra, psi (kader muhamadiyah dan pendidik di fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya) (Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial).


Editor : Mustofa, S.Pd

Comments

Popular posts from this blog

Dasar Hukum Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Indonesia

Tokoh Penting Dalam Pendidikan dan Pendidikan Karakter di Indonesia

Nilai Penting Karakter Menurut Tokoh Pendidikan Karakter