Peranan Sekolah Dalam Pembangunan Manusia Berkarakter Moral


Peranan pendidikan berkarakter moral di sekolah pernah dilakukan oleh Berkowitz & Bier (2003). Mereka menyatakan bahwa penerapan pendidikan berkarakter moral mempengaruhi peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi. Bahkan kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukan penurunan drastis pada prilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Hal ini disebabkan salah satu tujuan dalam pendidikan karakter yaitu adalah untuk pengembangan dalam kepribadian yang berintegritas terhadap nilai atau aturan yang ada. Ketika individu mempunyai integritas maka ia akan memiliki keyakinan terhadap potensi diri (self efficacy) untuk menghadapi hambatan dalam belajar.


Beberapa tema-tema moral yang ada dan berhubungan dengan kognitif ditemukan dalam penelitian Narvaes (2006). Peserta didik yang mendapatkan pendidikan berkarakter moral akan lebih; (a) Mudah memahami situasi moral secara akurat dan menegakkan aturan atau nilai yang diinternalisasi, (b) Mempunyai alat atau metode untuk memecahkan masalah moral yang kompleks, (c) Tetap berfokus terhadap tugas-tugas akademis dan termotivasi untuk mengatasi hambatan dalam pembelajaran, (d) Mampu memprioritaskan tujuan-tujuan etis untuk pengembangan diri dan dalam pemberdayaan sosial. Oleh karena itu, negara-negara maju turut menekankan pada pendidikan berkarakter moral tersebut sebagai soft skill yang mengikuti kompetensi pembelajaran. Dengan demikian lulusan dunia pendidikan akan lebih siap berkompetensi dalam era global saat ini.

Meskipun sekolah merupakan lingkungan kedua bagi peserta didik dalam membentuk karakter namun sekolah merupakan komunitas untuk melakukan sharing nilai dengan guru, teman sebaya dan sivitas akademika. Apalagi fenomena kurikulum sekarang yang sarat beban bagi peserta didik menyebabkan ia tinggal lebih lama disekolah daripada dilingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, pemakalah memberikan usulan terhadap peran sekolah dalam membangun manusia yang berkarakter moral sebagai berikut :
  1. Menyediakan Pendidikan Moral Agama yang berbasis penyikapan terhadap kasus/ fenomena; Dalam hal ini tentunya agama tidak saja disajikan dalam pengetahuan aturan atau tata laksana ibadah (syari'at) tetapi lebih kepada nilai-nilai agama dalam menghadapi fenomena sosial.
  2. Menyiapkan guru, kakak kelas, sivitas akademika, alumni sebagai role model; Sebagaimana definisi pendidikan yang berkarakter moral sebagai proses transfer, khususnya tindakan terhadap fenomena berdasarkan nilai atau aturan universal maka dibutuhkan figur teladan dalam menegakan nilai atau aturan tersebut.
  3. Menyediakan perangkat nilai dan aturan yang jelas, rasional dan konsisten; Sekolah yang mempunyai aturan jelas menyebabkan tidak ada ambiguitas peserta didik dalam memahaminya. Aturan yang jelas juga dimaksudkan agar peserta didik tidak mencari celah kelemahan aturan dan dalam memanfaatkan celah tersebut untuk pelanggaran.
  4. Membangun sinergitas antara pihak sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah; Sebagaimana kita ketahui kebijakan publik tidak dapat dijalankan jika tidak ada sinergi antara pihak terkait. Meskipun sekolah telah menerapkan pendidikan karakter moral di lingkungan belajar namun hal ini tidak akan efektif jika tidak didukung keterlibatan pihak keluarga, masyarakat dan pemerintahan.
  5. Pendidikan berkarakter moral dimasukan dalam kegiatan intra, ekstra, dan ko-kulikuler sebagai hidden curriculum; Dalam kegiatan intra-kurikuler dan ko-kurikuler, setiap mata pelajaran perlu memberikan pesan moral khusus berkaitan dengan topik pembelajaran.
  6. Menyajikan story telling melalui multi media dengan melibatkan peran sebagai role model karakter moral; Menurut Sheldon (2004), Story Telling adalah salah satu metode yang tepat untuk menyampaikan pesan moral melalui peran tokoh-tokoh dalam suatu cerita sebagai role model. Seperti Malin Kundang disampaikan melalui tayangan film atau parodi sehingga pesan moral tentang berbakti kepada orang tua lebih efektif disampaikan kepada peserta didik.
Pendidikan berkarakter moral adalah kunci untuk perbaikan sosial dan kemajuan dalam peradaban bangsa yang menjunjung tinggi integritas nilai dan kemanusiaan. Harapan dalam pendidikan berkarakter moral adalah tercapainya sebuah keseimbangan antara pengetahuan dan moral. Salah satu pendekatan dalam pendidikan berkarakter moral ialah dengan pendidikan moral agama yang diterapkan dalam setiap kehidupan akademis. Jika pengetahuan dan moral agama dapat diintegrasikan maka akan berkembanglah kesempurnaan ilmu berlandaskan moralitas (excellent with morality). "Ilmu tanpa agama akan buta, agama tanpa ilmu akan lumpuh".

Pendidikan berkarakter moral memerlukan figur teladan sebagai role model untuk menegakkan nilai atau aturan yang telah di sepakati bersama. Di sinilah peran pendidik, khususnya guru, orang tua, masyarakat, dan pemerintah sebagai figur teladan agar peserta didik mampu melakukan imitasi terhadap perilaku moral. Oleh karena semua pihak dituntut untuk terlibat aktif maka perlu adanya sinergisitas diantara elemen tersebut sehingga pendidikan berkarakter moral dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Sinergi semua elemen inilah yang mengingatkan kita kepada kata-kata bijak, " Tidak ada keberhasilan individu, yang ada adalah keberhasilan kolektif".



Sumber :
Berkowitz, Marvin W. (2002). The Science of Character Education. Dalam William Damon (Editor), Bringing in a New Era in Character Education. USA: Hoover Institution Press Publication).

Bohlin, Karen, E. (2005). Teaching Character Education Through Literature. New York: Routledge Falmer.

Brugman, D., Podolskij, A. J., Heymans, P. G., Boom, J., Karabanova, O., & Idobaeva, O. (2003). Perception of moral atmosphere in school and norm transgressive behavior in adolescent: An intervention study. International Journal of Behavioral Development, 27, 289-300.

Caspi, A., Sugden, K., Moffitt, T. E., Taylor, A., Craig, I. W., Harrington, H., et al. (2003). Influence of life stress on depression: Moderation by a polymorphism in the 5-HTT gene. Science, 301, 386-389.

Damon, W. (1988). Moral Child: Nurturing children's natural moral growth. New York: Free Press.

Decety, J., & Chaminade, T. (2003). Neural correlates of feeling sympathy. Neuropsycchologia, 41, 127-138.

Sheldon, Lee. (2004). Character Development and Story Telling. Boston: Thomson.

Silberman, I. (2005). Religion as a meaning system: implications for the new milennium. Journal of Social Issues 61 (4): 641-663.

Dr. M. Ghazali Bagus Ani Putra (web: Departemen Psikologi Kepribadian & Sosial).







Editor : Mustofa, S.Pd

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dasar Hukum Pelaksanaan Pendidikan Karakter di Indonesia

Tokoh Penting Dalam Pendidikan dan Pendidikan Karakter di Indonesia